Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Efek Kupu-Kupu dan Rantai Takdir Sejarah: Membaca Sejarah dengan "Butterfly Effect"


Timelinesocialnetwork.com - sering berpikir, betapa rapuhnya sejarah. Satu keputusan kecil individu, satu belokan yang salah, satu surat yang tidak dibalas, dan arah sejarah merubah segalanya.

Ambil contoh 28 Juni 1914. Hari itu Pangeran Franz Ferdinand datang ke Bosnia untuk meresmikan rumah sakit. Dia tidak tahu, ada kelompok "Black Hand" yang sudah menunggunya. Ada juga Gavrilo Princip, remaja Serbia-Bosnia yang marah karena Bosnia dicaplok Austria-Hongaria.

Ferdinand hampir selamat. Bom sudah meledak lebih awal, beberapa orang terluka. Seharusnya itu tanda untuk pulang. Tapi dia tetap nekat menjenguk korban ke rumah sakit. 

Dari satu keputusan sopir sekian detik tersebut. Sopir pribadi Ferdinand salah belok. Mobil diputar, tepat di depan kafe tempat Princip duduk. Tanpa pikir panjang, Princip berdiri dan menembak. Mati seketika.

Dari satu peluru itu, dunia terbakar. Austria-Hongaria menuntut Serbia. Rusia membela Serbia. Jerman membela Austria. Prancis ikut. Jerman masuk Belgia, Inggris marah. Amerika datang. Turki gabung. Lahirlah Perang Dunia I. 

Kami merinding jika membayangkan, bagaimana jika sopirnya membuka peta lebih dahulu? Bagaimana jika Ferdinand pulang setelah bom pertama? Mungkin 20 juta orang tidak akan mati pada perang dunia. Mungkin tidak ada Perang Dunia II. Mungkin peta dunia tidak seperti sekarang.

Para ilmuwan menyebut ini Butterfly Effect, Efek Kupu-Kupu. Teori kekacauan yang menyebutkan bahwa kejadian kecil mampu menghasilkan konsekuensi raksasa. Istilah ini dipopulerkan Edward Lorenz tahun 1961. Menurut Edward, kepakan sayap kupu-kupu di Amazon bisa jadi tornado di Texas. 

Kedengarannya biasa saja. Tapi sejarah membuktikannya secara berlubang, sejarah bisa ditentukan dengan peristiwa yang remeh teme dan bahkan tidak masuk dalam kualifikasi mempengaruhi perubahan sejarah.

Surat Ho Chi Minh Diabaikan Presiden Amerika 

Kami melihatnya di Perang Vietnam. Tahun 1919, ada anak muda Vietnam yang bernama Ho Chi Minh. Dia kirim surat ke Presiden AS,  Woodrow Wilson di Paris. Isinya sederhana: "tolong bantu Vietnam merdeka dari Prancis." Saat surat tersebut dibaca, Wilson terlalu sibuk, sehingga surat diabaikan.

Mendapati suratnya diabaikan, Ho Chi Minh kecewa. Dia pergi ke Uni Soviet, belajar tentang komunisme, ketemu Joseph Stalin. Puluhan tahun kemudian, Ho Chi Minh memimpin Vietnam Utara dan memicu Perang Vietnam. 

Kami jadi bertanya, bagaimana jika Wilson meluangkan 10 menit atau beberapa menit bertemu Ho Chi Minh, Mungkin ratusan ribu tentara AS tidak akan mati, kelaparan, dan kena penyakit di hutan Vietnan.

Satu Keputusan tidak Menembak, Melahirkan Holocaust dan Perang Dunia II.

Lalu ada kisah Henry Tandey, tentara Inggris. Tahun 1918 di Prancis, dia melihat tentara Jerman terluka. Dia bisa nembak. Tapi dia tidak tega. 20 tahun kemudian, tentara itu mengaku ke PM Inggris: "Itu saya. Hitler." 

Bayangkan. Satu keputusan tidak menembak, melahirkan Holocaust dan Perang Dunia II. Ditambah Hitler ditolak masuk sekolah seni di Wina. Dua hal kecil. Dampaknya sangat besar yaitu 60 juta orang meninggal.

Bahkan di Era Modern, Efek Ini Masih Jalan.

Tanggal 9 Agustus 1945, Amerika mau menjatuhkan bom atom kedua di Kokura, Jepang. Tapi hari itu mendung. Pilotnya muter 3 kali, tidak kelihatan. Akhirnya dia pindah ke Nagasaki. Kokura selamat. Orang Jepang menyebutnya "Keberuntungan Kokura". Satu cuaca mendung menyelamatkan satu kota.

Atau tahun 1962, saat dunia hampir kiamat nuklir. Kapal selam Soviet B-59 hampir meluncurkan torpedo nuklir ke kapal AS. Untung ada Vasili Arkhipov. Dari 3 komandan, dia satu-satunya yang bilang "jangan". Dunia selamat karena satu orang berani menentang.

Terjadi di Depan Mata Rakyat Indonesia.

Coba ingat Jokowi. Dulu siapa yang kenal dia? Bukan jenderal, bukan teknokrat, bukan cucu pendiri bangsa. Dia tukang kayu dari Solo. 

Tapi media meliput dia masuk gorong-gorong. Meliput dia blusukan ke pasar, ke sawah, duduk di emperan. Citra "sederhana" itu yang mengangkatnya. 

Kami tidak sedang menilai baik atau buruk. Kami hanya melihat kausalitasnya. Bayangkan jika media tidak meliput itu. Mungkin dia tetap wali kota Solo. Mungkin tidak ada Presiden Jokowi. Mungkin Kaesang tidak jadi ketua partai. Mungkin Gibran tidak jadi wakil presiden. Mungkin Bobby tidak jadi gubernur. Satu liputan "masuk gorong-gorong". Efeknya sampai 10 tahun ke depan.

Kemenangan Bush Pemilu Amerika Tahun 2000

Hal yang sama terjadi di Amerika. Bush menang di Florida tahun 2000 hanya selisih 537 suara. Kenapa? Karena komunitas Kuba di Florida marah pada Demokrat soal kasus bocah Elian Gonzalez. Karena marah itu, mereka pilih Republik. Karena Bush menang, lalu ada Perang Irak. Saddam digantung.

Bahkan bisa ditarik lagi. Fox News yang membantu Bush menang, didirikan Rupert Murdoch. Ibunya Rupert, Kate Murdoch, dulu diajari bicara oleh Lionel Logue, terapis wicara Raja George VI. Jadi seorang terapis wicara dan seorang bocah Kuba, tidak langsung punya andil dalam Perang Irak. Gila kan?

Inggris keluar dari Uni Eropa 

Terakhir, Brexit. Inggris keluar dari Uni Eropa karena apa? Karena tahun 2012 ada anggota Parlemen Partai Buruh mabuk di bar, berantem, lalu ditangkap. Partai Buruh panik, buka pendaftaran 3 pound. Ribuan orang gabung, pilih Jeremy Corbyn. Corbyn kalah, konservatif menang, lalu referendum Brexit. Satu pukulan mabuk di bar. Inggris keluar dari Eropa.

Apa Maknanya Bagi Kami?

Kami jadi percaya kata Benjamin Franklin: "Karena satu paku hilang, sepatu kuda lepas. Karena sepatu lepas, kuda jatuh. Karena kuda jatuh, penunggang mati. Karena penunggang mati, perang kalah. Karena perang kalah, kerajaan runtuh. Semua karena satu paku."

Dunia ini tidak linier. Bukan A langsung ke B. Dunia ini seperti jaring laba-laba. Tarik satu benang, semuanya getar.

Bagi kita, ada dua pelajaran penting:

Pertama, hati-hati. Keputusan kecil kita hari ini bisa punya efek 20 tahun kemudian. Posting di media sosial, kata yang kita ucap, pilihan kita saat memilih pemimpin. Kami tidak pernah tahu kemana larinya.

Kedua, jangan merasa kecil. Kami sering berpikir: "Ngapain kami pakai sedotan stainless? Ngapain kami ikut pemilu? Toh tidak ngaruh." 

Tapi Covid-19 berawal dari satu pasar di Wuhan. Perubahan iklim dimulai dari miliaran tindakan kecil kita. 

Seperti kata Neil Gaiman: "Dulu orang pikir yang mengubah dunia itu bom besar dan gempa. Itu kuno. Sekarang kita tahu: yang mengubah dunia adalah hal kecil. Seekor kupu-kupu mengepak di Amazon, dan badai datang ke Eropa."

Kami tidak tahu 20 tahun lagi dunia akan seperti apa. Tapi kami tahu, hari ini kami sedang mengepakkan sayap. Dan kami berharap, kepakannya tidak menciptakan badai.