Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Progresif Tanpa Kehilangan Arah: Catatan Penting HMI 2026

Yogi Pratama, SE. MPd (kandidat Calon Ketua Umum PB HMI

Timelinesocialnetwork.com - Organisasi mahasiswa sering dihadapkan pada dua kecenderungan: menjadi birokrasi simbolik atau menjadi ruang produksi gagasan dan gerakan. Dalam konteks Himpunan Mahasiswa Islam / HMI, dilema ini semakin relevan menjelang Kongres Ke-XXXIII di Lampung 2026.

Ada satu kalimat yang menurut saya perlu kita jadikan bahan refleksi bersama: "Bukan untuk duduk tertinggi, tapi untuk berjuang paling depan."

1. Menggeser Makna Kepemimpinan

Kepemimpinan dalam organisasi kader tidak bisa diukur dari posisi struktural. "Duduk tertinggi" sering kali melahirkan jarak antara pimpinan dengan basis. Padahal sejarah HMI menunjukkan bahwa kekuatannya lahir dari kedekatan dengan persoalan rakyat.  

"Berjuang paling depan" adalah pengingat bahwa fungsi kepemimpinan adalah mendahului dalam berpikir, mendahului dalam bertindak, dan menanggung risiko terlebih dahulu. Itu artinya kepemimpinan harus kembali ke watak pengabdian, bukan prestise.

2. HMI untuk Indonesia

HMI tidak pernah bisa dilepaskan dari narasi kebangsaan. Sejak didirikan 1947, HMI lahir sebagai jawaban intelektual atas tantangan kebangsaan.  

Karena itu, orientasi HMI hari ini tidak boleh sempit pada urusan internal kampus. *HMI untuk Indonesia* berarti HMI harus membaca Indonesia secara utuh: persoalan desa, ketimpangan agraria, krisis pendidikan, hingga disorientasi nilai.  

Jika HMI hanya berbicara untuk dirinya sendiri, maka ia kehilangan relevansi sejarahnya.

3. Kontribusi untuk Bangsa

Kontribusi tidak cukup diukur dari kuantitas kegiatan. Kontribusi sejati adalah ketika organisasi mampu menghadirkan gagasan yang memengaruhi kebijakan publik dan menghadirkan aksi yang berdampak langsung pada masyarakat.  

Bangsa ini tidak kekurangan orasi. Yang kita butuhkan adalah kontribusi yang sistematis: riset, advokasi kebijakan, pemberdayaan komunitas, dan pendidikan politik. Di situlah ukuran tanggung jawab HMI sebagai organisasi kader.

4. HMI sebagai Penyumbang Ide, Pergerakan, dan Langkah Progresif

Tiga fungsi ini tidak bisa dipisahkan.  

Penyumbang ide, karena bangsa butuh wacana alternatif di tengah kebisingan populisme.  

Penggerak pergerakan, karena perubahan tidak terjadi hanya di atas kertas.  

Melangkah progresif, karena tantangan hari ini berbeda dengan 10 atau 20 tahun lalu. Isu iklim, teknologi, ketahanan pangan, dan keadilan digital menuntut cara berpikir baru.  

Progresif di sini bukan berarti meninggalkan nilai dasar. Justru sebaliknya, nilai dasar itulah yang menjadi kompas agar progresivitas tidak kehilangan arah.

HMI di persimpangan. Ia bisa memilih menjadi organisasi yang nyaman dengan seremonial, atau kembali mengambil peran sejarahnya sebagai kawah candradimuka.  

Jika kita serius dengan masa depan bangsa, maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang duduk paling tinggi. Pertanyaannya adalah siapa yang berani paling depan dalam berpikir, bergerak, dan mengabdi untuk Indonesia.