Ekonomi Politik Cinta: Bagaimana Dominasi Kapitalisme dan Patriarki Mengatur Ruang Romantisme
![]() |
| RAHIMUN M. SAID (Mahasiswa Magister Ilmu Politik UNAS Jakarta. Direktur HUMAS LAPMI PB HMI) |
Dalam perspektif Marx, cinta telah terseret ke dalam logika komodifikasi, di mana afeksi, tubuh, dan relasi antarmanusia tunduk pada mekanisme pasar. Manusia tidak lagi sekedar mencintai seseorang, tetapi juga mengonsumsi citra, status, dan nilai tukar yang melekat pada dirinya. Hubungan sosial berubah menjadi hubungan antarkomoditas.
Bourdieu menunjukkan bahwa pilihan pasangan bukanlah keputusan yang sepenuhnya bebas. Ia dipengaruhi oleh distribusi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik yang dimiliki seseorang. Apa yang disebut "selera" dan "kecocokan" adalah jelmaan manifestasi dari habitus, yaitu disposisi sosial yang dibentuk oleh kelas dan pengalaman hidup.
Sementara itu, Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan bekerja bukan hanya melalui larangan, melainkan melalui produksi norma. Cinta, seksualitas, dan keluarga menjadi objek biopolitik, di mana masyarakat didisiplinkan untuk menganggap bentuk relasi tertentu sebagai normal, bermoral, dan layak, sementara bentuk lainnya dimarginalkan.
Kritik feminis kemudian memperlihatkan bagaimana kapitalisme dan patriarki saling menopang dalam membentuk patriarcapitalisme. Tubuh perempuan dikomodifikasi melalui industri kecantikan, sedangkan maskulinitas laki-laki diukur melalui produktivitas, kekayaan, dan kemampuan menjadi pencari nafkah. Hasrat akhirnya diproduksi oleh struktur, bukan lahir sepenuhnya dari kebebasan individu.
Dalam kondisi demikian, cinta romantis lebih dari sekedar perasaan, ia adalah aparatus ideologis yang mereproduksi hierarki kelas, gender, dan kekuasaan. Apa yang tampak sebagai pilihan personal sering kali merupakan hasil internalisasi norma yang bekerja secara halus melalui keluarga, agama, pendidikan, media, dan industri budaya.
Mungkin karena itu, pertanyaan yang paling radikal bukanlah "Siapa yang kita cintai?", melainkan: "Siapa yang mengajarkan kita cara mencintai, dan untuk kepentingan siapa?"
