Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kepala BGN Ungkap Tiga Fokus Utama: Korupsi, Tata Kelola MBG, dan Transparansi

Foto: Tangkapan layar Akun Instagram Sudaryono 

Timelinesocialnetwork.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan tiga persoalan utama yang menjadi fokus pembenahan di lembaga yang baru dipimpinnya. Hal tersebut disampaikan dalam jumpa pers di Gedung BGN, Jakarta Pusat, Senin 27/7/2026.

Sudaryono mengatakan dirinya belum genap satu minggu menjabat sebagai Kepala BGN. Namun, ia berupaya segera mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi lembaga tersebut guna memastikan program-program yang dijalankan dapat berjalan optimal.

"Hari ini adalah hari kesekian saya menjabat sebagai Kepala BGN yang baru. Belum genap satu minggu. Saya berusaha sesegera mungkin mengidentifikasi persoalan. Jika boleh saya sampaikan, persoalan utama yang paling kami hadapi di BGN ini ada tiga," ungkap Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional dalam jumpa pers di gedung BGN Jakarta Pusat pada Senin,  (27/Juli/2026)

Persoalan pertama yang menjadi perhatian adalah dugaan tindakan koruptif di lingkungan BGN. Menurut Yudhoyono, kasus tersebut saat ini telah ditangani oleh Kejaksaan dan BGN siap memberikan dukungan penuh terhadap proses hukum yang berlangsung.

"Pertama, adanya perilaku atau tindakan koruptif di BGN. Sebagaimana Anda semua tahu, hal ini sudah ditangani oleh Kejaksaan. Kami menyerahkan sepenuhnya mekanisme penanganannya kepada Kejaksaan. Kami siap bekerja sama seluas-luasnya, membuka akses seluas-luasnya terhadap informasi yang dibutuhkan dalam proses penyelidikan maupun penyidikan," ujar Sudaryono.

Prioritas kedua adalah memastikan tata kelola yang baik dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut harus diukur dari terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat, bukan sekadar jumlah atau cita rasa makanan yang disajikan.

"Kedua, memastikan tata kelola yang baik dalam penyelenggaraan Makan Bergizi Gratis. Sekali lagi, ini namanya Makan Bergizi Gratis, bukan Makan Enak Gratis, bukan Makan Banyak Gratis. Kecukupan gizinya yang menjadi tolak ukurnya," pungkasnya.

Dalam mendukung pelaksanaan MBG, BGN saat ini telah memiliki sekitar 27 ribu dapur yang beroperasi di berbagai daerah. Setiap dapur dipimpin oleh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Sudaryono menekankan pentingnya integritas dan profesionalisme para kepala dapur sebagai abdi negara yang bertanggung jawab memastikan kualitas makanan yang disajikan kepada masyarakat.

"Dalam pemenuhan MBG ini, saat ini kami telah memiliki 27.000 sekian dapur. Di setiap dapur yang aktif, ada Kepala SPPG yang statusnya adalah P3K. Saya ulangi: status Kepala Dapur adalah Abdi Negara. Karena itu penting bagi kami memastikan Abdi Negara di setiap dapur bekerja dengan sebaik-baiknya, sebersih-bersihnya, dan memastikan menu yang tersaji adalah menu yang baik," jelasnya.

Sementara itu, prioritas ketiga adalah memperkuat keterbukaan, transparansi, komunikasi, dan pelibatan berbagai pihak dalam pengawasan program BGN. Menurutnya, kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran.

"Ketiga, keterbukaan, transparansi, komunikasi, dan pelibatan banyak pihak. Melibatkan kementerian/lembaga lain, pemerintah daerah, dinas-dinas, dan keterlibatan publik dalam mengawasi menu, penyaluran, dapur, kebersihan, dan lain-lain," tuturnya.

Sudaryono berharap dalam melakukan pembenahan ini memiliki dampak positif bagi jalannya program makan bergizi gratis dengan bersih, akuntabilitas, transparans sekaligus memberikan manfaat bagi anak-anak masa dan depan Indonesia.