Mahfud MD dan Ustadz Das'ad: Filosofi Mengingatkan Pemimpin
![]() |
| Foto: Tangkapan layar Akun Instagram BP3MI DKI Jakarta |
Timelinesocialnetwork.com - Kami menyarankan kepada pembaca untuk menonton podcast Mahfud MD dan ustadz Das’ad latif di akun youtube Mahfud MD Official. Menurut kami, podcast dengan judul "kalau pemimpin salah, ingatkan" menjadi konten yang sangat jujur diungkapkan oleh ulama dan akademisi. Konten yang berdurasi satu jam 19 menit tersebut membahas banyak hal, tetapi kami mengambil sembilan poin-poin yang substantif untuk dijadikan refleksi filosofis terkait kehidupan bernegara.
1. Kritik sebagai Pilar Demokrasi Deliberatif.
Kami melihat benang merah utama dari obrolan antara Mahfud MD dan Ustads Das’ad Latif. Kritik itu ibadah kebangsaan. Mahfud menyebutnya “nahi mungkar”, Das’ad menyebutnya “amar ma’ruf”. Keduanya sepakat pada satu dalil moral bahwa diam terhadap kezaliman sama dengan membiarkan negara rusak. Yang membedakan hanya gayanya. Mahfud keras dan frontal, ustadz Das’ad halus tapi menusuk. Tujuannya sama, yaitu meluruskan. Di era ketika kritik sering dilabeli “Londo Ireng” atau “musuh negara”, obrolan ini mengingatkan bahwa justru yang cinta negaralah yang paling berani bersuara.
Menurut kami, ini sejalan dengan teori Hebermas yaitu deliberative democracy, demokrasi bukan saja ritual pemilu 5 tahun sekali, tetapi harus ada public spehere sebagai tempat masyarakat adu argumentasi. Memberikan label kepada kritikus sebagai Londo Ireng merupakan gejala de-demokratisasi.
2. Dakwah dan kritik Sosial Harus Beradaptasi dengan Zaman.
Dulu dakwah di mimbar masjid, audiens terbatas. Sekarang sekali ceramah ditonton sedunia lewat live streaming. Ustadz Das’ad menekankan 4 pilar komunikasi, yaitu ada mimik, gestur, intonasi, dan diksi. Mahfud menekankan pentingnya membaca audiens.
Kami melihat ini krusial. Pejabat, polisi, jaksa, sampai menteri sekarang duduk di barisan depan saat dikritik. Kalau gayanya masih kasar dan menghakimi, yang terjadi adalah penolakan. Tapi kalau pakai “beleng-beleng” dan logat daerah, pesan masuk tanpa membuat orang defensif.
Kami berupaya melakukan pendekatan ini dengan teori Marshall Mcluhan yang disebut Media Ecology Theory dalam karyanya "The medium is the massage". perubahan medium dari mimbar ke media sosial mengubah cara manusia merubah pesan. Disinilah ustadz Das’ad menekankan pentingnya mimik, diksi, gestur, dan intonasi sebagai upaya agar pesan tidak kehilangan makna dan gagal masuk algoritma.
3. Pejabat juga Manusia, kritik Harus konstruktif.
Keduanya menolak kritik yang menghina pribadi. Kritik harus menyasar kebijakan dan perilaku menyimpang. Ustad Das’ad memberi contoh, menegur imam yang salah dengan “Subhanallah”, bukan dengan teriakan. Mahfud memberi contoh, menyerahkan ke publik ketika jalur institusi buntu.
Kami setuju, Kritik terbaik adalah kritik yang memberi solusi. Tapi solusi dalam kritik hanya bonus. Menunjuk salah itu mudah. Menunjukkan mana yang benar itu yang sulit, dan itulah yang mereka lakukan.
4. Integritas adalah satu-satunya modal dai dan negarawan.
Yang membuat orang percaya pada Mahfud dan Das’ad bukan jabatannya. Mahfud sudah melewati legislatif, eksekutif, yudikatif. Das’ad punya 4,5 juta subscriber. Tapi yang membuat jamaah dan publik tetap mendengarkan adalah rekam jejak, tidak ada aib besar, dan tidak ada skandal. “Alhamdulillah tidak menimbulkan aib,” kata Das’ad. Di tengah banyak tokoh yang jatuh karena korupsi, integritas menjadi mata uang paling mahal. Tanpa itu, ceramah dan kritik tidak akan didengar.
Kami memandang di sini, perlu menggunakan kerangka Bourdieu, yaitu modal simbolik (simbolyc capital) ditengah pejabat publik kehilangan integritas, maka modal tersebut akan bernilai daripada modal jabatan dan modal politik. Pada tahap ini, kami menyebut sebagai pribadi otentik sehingga kritik memiliki legitimasi kuat.
5. Nasionalisme Inklusif, Syukur Konstitusional.
Mahfud mengingatkan mobilitas sosial umat Islam hari ini luar biasa karena ada Indonesia merdeka. Dulu lulusan IAIN dipandang kelas dua, sekarang UIN melahirkan profesor. Dulu santri hanya jadi guru ngaji, sekarang jadi menteri. Kami melihat ini sebagai indikator penting bahwa jangan sampai kita merusak rumah yang sudah membesarkan kita. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia, menjaga Indonesia artinya menjaga Bhinneka, menjaga toleransi, dan menjaga hukum.
Cara pandang seperti ini sama persis yang dikemukakan oleh Jurgen Hebermas, dimana ia mendalilkan "constitutional patriotism". Jika diterjemahkan dalil itu ke bahasa kita, maka bunyinya cinta tanah air bukan didasarkan padahal etnis, agama, dan kesamaan budayawan, melainkan komitmen bersama terhadap konstitusi dan nilai-nilai kebangsaan.
6. Logat Daerah sebagai Strategi Branding, Bukan Kelemahan.
Keduanya sengaja mempertahankan logat Madura dan Bugis-Makassar. Saat ada tawaran TV nasional “hilangkan logatnya”, Das’ad menolak. Mahfud juga tetap Madura meski 50 tahun di Jawa. Kami menilai ini bentuk perlawanan terhadap penyeragaman. Indonesia kuat karena beragam. Dalam dakwah, dalam politik, dalam komunikasi publik, logat dan budaya lokal justru menjadi branding dan jembatan kedekatan dengan rakyat.
Kami apresiasi cara pandang keduanya, mengingat ini relevan dalam kerangka komunikasi lintas budaya yang disebut strategi codet-switching dan accented indentity. Pada studi poskolonial, ini disebut penolakan dekonstruksi terhadap hegemoni jakarta sentris.
7. Media sosial adalah pedang bermata dua
Keuntungan menggukan media sosial sekarang adalah kita mampu menjangkau dakwah dan kritik secara luas dan masif. Tetapi juga ada kerugian, yaitu ada potongan, pelintiran, hoaks. Bahkan kedua tokoh tersebut mengalaminya. Video Mahfud dipotong seolah menghina presiden. Foto Mahfud diborgol diviralkan seolah ditangkap KPK. Solusi mereka, seleksi ketat, nonton ulang ceramah sebelum diunggah, dan klarifikasi cepat.
Kami menilai ini relevan dengan teori context collapse dari Danah Boy. Di media sosial, konten durasi satu jam bisa dibuat 1 satu menit sebagai upaya pelintiran terhadap isi, mengambil slide yang isinya tanpa melihat konteks ketika pernyataan tersebut diucapkan. Pada tahap ini, perlu adanya literasi digital.
8. Pendidikan dan Keteladanan Dimulai dari Masjid dan Kampung.
Kisah Das’ad yang selalu pindah rumah dekat masjid, dan Mahfud yang mulai dari PGA lalu jadi guru ngaji, menunjukkan satu hal, yaitu kader terbaik bangsa lahir dari ekosistem yang dekat dengan nilai. Masjid, pesantren, kampus. Karena itu program seperti Sekolah Nasional Terintegrasi yang menyatukan SMP-SMA tanpa biaya penting untuk diperluas. Negara harus memastikan anak kampung punya akses yang sama untuk menjadi “Mahfud” dan “Das’ad” berikutnya.
9. Reproduksi Elit Lewat Pendidikan Berbasis Nilai.
Mahfud dan Das’ad adalah dua kutub yang saling melengkapi. Yang satu “hardcore”, yang satu “berhikmah”. Yang satu di ranah hukum dan negara, yang satu di ranah mimbar dan umat. Tapi keduanya menjalankan fungsi yang sama dalam demokrasi: menjadi rem dan alarm.
Nenurut kami, ini argumentasi yang kualitas, bahkan banyak diantara pembaca setuju pada gagasan tersebut, di mana pemimpin diproduksi lewat basis nilai. Sebab, selaras dengan teori social reproduction Bourdieu yang mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya transef ilmu pengetahuan, tetapi transfer nilai habitus.
Kami menyimpulkan, Indonesia tidak kekurangan pemimpin. Indonesia kekurangan orang yang berani jujur. Ketika pemimpin salah, ingatkan. Dengan cara proporsional atau cara yang tegas, dan cara yang santun. Sikap kita ketika melihat penyimpangan, jangan diam. Karena diam adalah persetujuan terhadap kemungkaran.
