Prof Ferry Latuhihin dan Potret Indonesia 2026: Ketika Ekonomi Melambat, Fiskal Tertekan, dan Kepercayaan Menurun
![]() |
| Tangkapan layar Akun Instagram @Glenn.ardi |
Timelinesocialnetwork.com - Setelah mendengar podcast Prof Ferry Latuhihin dipandu oleh Glen Ardi di akun Youtube "ngomongin uang" yang di unggah pada Minggu 26 Juli 2026, kami merasa ini adalah salah satu kritik paling blak-blakan dan paling jujur dari seorang ekonom senior tersebut. Dia memulai menjalaskan 30 tahun lebih di pasar modal bikin analisisnya tajam, nggak bertele-tele, dan langsung menunjuk ke sumber masalah yaitu persoalan administrasi negara yang berantakan.
Yang paling mengena bagi saya adalah Prof Ferry bilang masalah kita sekarang bukan infrastruktur, tapi suprastruktur. Betul. Mau bangun jalan, pelabuhan, bandara segampang itu kalau ada uang. Tapi kalau birokrasinya kacau, regulasi berubah tiap hari, dan ada 110 menteri, investor mana yang mau masuk? Ini tamparan keras.
"Problem kita yang ada sekarang buka problem infrastruktur, kalau problem infrastruktur gampang bos. Jalanan bolong tinggal kita punya duit, kita tambal. Pelabuhan rusak, kita punya duit, kita bisa bangun. Airport rusak kita bangun. Tapi suprastruktur rusak, kalau ngomongin suprastruktur, itu softwarre-nya pembangunan. Misalnya birokrasi itu suprastruktur, tidak punya fisik. Yang kedua, birokrasi yang bisa berubah setiap hari," jelas Ferry Latuhihin.
Data PMI yang jatuh ke 46,9 dan proyeksi badai PHK di Q3-Q4 2026 itu bikin merinding. Artinya krisis ketenagakerjaan bukan sekadar isu. Ini nyata dan sudah di depan mata. Ketika sektor manufaktur kontraksi, artinya daya beli dan pertumbuhan akan makin tertekan.
"PMI kita jatuhnya itu cukup dahsyat, dari 50 ke 46,9. Artinya sektor manufaktur kita sekarang berada dalam zona kontraksi. Kejatuhan yang begitu dalam ini, menurut saya akan ada bagian PHK besar-besaran. Tidak hari ini, tapi tiga bulan, 4 bulan, lima bulan ke depan, Q3 dan Q4 2026," jelasnya.
Saya setuju dengan poin Prof Ferry soal keputusasaan fiskal. Menurunkan Babinsa dan polisi untuk kejar pajak, gagal jual Panda Bond, sampai terbitnya Pasal 50A P2SK yang disorot Bloomberg sebagai "pintu dirty money". Ini semua sinyal bahwa negara sedang panik mencari uang. Dan itu berbahaya.
"Sakin hopelessnya pemerintah mendapatkan uang, sekarang Babinsa diturunkan ke desa-desa loh, Polisi diturunkan untuk memantau pajak dari masyarakat. Kita lihat bagaimana Purbaya menjual Panda Bond ke China sana. Enggak ada yang mau beli," tuturnya.
Analisisnya tentang 4 komponen PDB juga sangat logis. Investment lemah, consumption turun, government expenditure kering, ekspor minus impor defisit. Kalau semua mesin pertumbuhan mati bersamaan, wajar kalau outlook-nya "sangat gelap". Ini bukan pesimis, ini membaca data.
"Komponen pertama tadi investment tidak bagus ya kan kontraksi. Consumer juga tidak bagus ya kan daya beli masyarakat turun. Sekarang government expenditure, yang terakhir komponen dalam equation PDB kita kan nggak punya duit, Bos," ucapnya.
Bagian tentang independensi BI yang dicabut paling saya khawatirkan. Kalau BI bisa diintervensi DPR untuk "deficit financing", kita bisa kembali ke era inflasi tinggi dan rupiah anjlok. Investor asing pasti kabur duluan. Ini bukan teori, ini sudah terjadi di negara lain.
Kami juga sepakat dengan kritik terhadap MBG, KDMP, dan Danantara. Menurut kami niatnya mulia, tapi tahap eksekusi terlalu terburu-buru dan tidak dihitung secara bisnis. Masa laba koperasi di Blok M cuma 78 ribu, tapi mau dikasih kelola tambang dan pabrik minyak goreng? Masa SWF dibikin dari aset BUMN yang rugi? Jelas-jelas hal tersebut melanggar hukum ekonomi paling mendasar.
Pernyataan bahwa rating kita sudah non-investment grade di mata investor asing itu penting. Karena pasar sulit berbohong, siklus pasar selalu bekerja jujur, Mau S&P bilang stabil, jika ada dana asing keluar dan perusahaan China angkat koper dari Sulawesi utara artinya kepercayaan investor telah runtuh.
Peringatan soal El Nino Godzilla dan potensi kerusuhan sosial juga tidak bisa dianggap remeh. Ketika pangan naik double digit di tengah daya beli rontok, sejarah menunjukkan rakyat bisa meledak. Pemerintah harus antisipasi ini dari sekarang, bukan setelah terjadi.
Soal gerakan sosial yang terjadi akhir-akhir ini dilakukan oleh mahasiswa dan beberapaelemen masyarakat, kami menilai Prof Ferry sangat realistis. Gen Z beda dengan 98. Tidak ada tokoh sentral yang mengokrestrasi mobilisasi massa, dan ego kampus tinggi. Tapi beliau benar, di sini kami membaca, kalau rakyat sudah terlalu lapar dan penguasa arogan, ledakannya bisa datang dari mana saja, kapan saja, tidak terprisoksi dan tidak terkontrol.
Slain itu, Ferri Latuhihin juga menyoroti dinamika politik antara Polri-Kejaksaan atau isu pertarungan antar aparat penegak hukum (APH), kami melihatnya bagus, jika elit pecah, perubahan bisa paling cepat terjadi. Dan rakyat justru diuntungkan karena kebusukan yang selama ini belum terekspos semua, dan momentum saling dibongkar ini yang publik tunggu. Tapi dampak ke ekonomi pasti negatif jangka pendek karena volatilitas.
Kami sangat apresiasi dengan integritas Prof Ferry yang memilih jadi lonely ranger. Pilihan eksistensial keluar dari TKN karena Danantara, kemudian setelah berada di luar konsisten mengkritik meski banyak yang menawarkan gabung kelompok. Ini menunjukkan dia bicara berdasarkan data dan panggilan nurani paling dalam, bukan karena adanya kepentingan politik .
Kesimpulan kami solusi Prof Ferry sangat sederhana dan masuk akal. Pemerintah mundur, kasih ruang ke swasta. Potong pajak, kecilkan birokrasi, jangan serakah kuasai semua sektor. Ideologi dikesampingkan dulu. Yang penting pertumbuhan naik dan rakyat sejahtera. Kalau pemerintah gagal di 5%, kenapa tidak coba cara yang sudah terbukti berhasil di tempat lain?
