Ketika Sekolah Dianggap Tak Menentukan Kecerdasan: Menyoal Pernyataan Prabowo
![]() |
| Foto: Tangkapan layar Akun Instagram @sumarjaya_linggih |
Timelinesocialnetwork.com - Prabowo sebut kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Pernyataan tersebut ia sampaikan pada 7 Agustus 2026 pada acara Launcing buku Bahlil Lahadalia. Statemen ini mengundang reaksi publik, karena bisa dibenarkan dan bisa juga tidak benar secara teoritis.
Pertanyaannya, apa faktor yang melatarbelakangi pernyataan tersebut muncul? Ya, ia memberikan dalil "kecerdasan bukan di sekolah" dengan mencontohin Bahlil Lahadalia sebagai role mode orang cerdas tampa menekuni jenjang pendidikan tinggi di kampus terkenal, bahkan Prabowo sebut kampus Bahlil tidak ada di Geogle saking tidak terkenal.
Sebagai contoh konkrit sekolah tidak menjamin kecerdasan, Prabowo sebut Bahlil mampu menjadi ketua HIPMI dan menjadi menteri era Jokowi dan era pemerintahanya.
Prabowo menduga kecerdasa Bahlil berkat didikan orang tua terutama ibunya, bukan dari pendidikan formal. Lebih lanjut Prabowo kutip ajaran agama "surga ada di telapak kaki ibu" dan menyebut Bahlil jadi seperti sekarang karena pengorbanan ibunya.
Kami sepakat pernyataan Prabowo dalam beberapa hal, tapi kami tidak sepakat pada beberapa hal. Menurut kami, kecerdasan bisa didapat dari banyak tempat. Entah itu dari pengalaman, lingkungan, dan keluarga. Lebih dari itu, kecerdasan seseorang hanya bisa ditata dalam ruang lingkup pendidikan, Namun, pendidikan memiliki posisi yang berbeda karena di dalamnya terdapat ekosistem yang secara khusus dirancang untuk menata, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis.
Pendidikan bukan sekadar tempat memperoleh pengetahuan, melainkan ruang yang memperkenalkan metodologi, membangun tradisi berpikir kritis, menghadirkan pertanggungjawaban ilmiah, serta memungkinkan gagasan diuji melalui penelitian dan pengujian yang terukur. Karena itu, sekolah atau perguruan tinggi memang bukan satu-satunya sumber kecerdasan, tetapi pendidikan dapat menjadi ruang penting untuk mengolah kecerdasan yang diperoleh seseorang dari pengalaman hidup menjadi pengetahuan dan kemampuan yang lebih terstruktur, teruji, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada konsep tersebut, Prabowo tidak melihat pendidikan (sekolah dan kampus) sebagai entitas penting bagi kecerdasan seseorang. Mengingat kecerdasan Bahli didapat dari ruang lingkup pendidikan juga. Jadi, Bahlil cerdas bukan sekadar dari pengalaman, karena dasarnya Bahlil menjadi bagian Himpunan Mahasiswa Islam. Artinya, kecerdasan Bahlil Lahadalia berasal dari organisasi yang mengedepankan nilai-nilai Islam dan menjunjung tinggi penalaran ilmiah.
Menjadikan Bahlil sebagai bukti bahwa sekolah atau kampus tidak menentukan kecerdasan justru perlu dilihat secara lebih utuh. Pendidikan formal, pengalaman organisasi, lingkungan sosial, keluarga, dan pengalaman hidup bukanlah unsur yang harus dipertentangkan, melainkan berbagai ruang yang dapat saling melengkapi dalam membentuk kapasitas intelektual seseorang.
Kami memandang pernyataan Prabowo seolah-olah mendiskreditkan pendidikan sebagai tempat belajar, padahal sudah banyak contoh konkrit di mana negara-negara yang mengedepankan pendidikan maju dalam bebarbagai aspek terutama inovasi teknologi. Pandangan Prabowo juga paradoks dengan kebijakannya sendiri, bahkan sebelum pernyataannya diucapkan, ia mendirikan sekolah rakyat dengan tujuan rakyat cerdas.
