Nusa Tenggara Timur Musibah, Gempa 7,7 Mengambil Atap, dan Kami Meminta Uluran Tangan Kalian
![]() |
| Warga Pota, Nusa Tenggara Timur luk-luka Dampak Gempa Open Donasi BNI 1059184913 atas nama ibu Ulfah Fauziah) untuk Korba Gempa kampung Pota |
Timelinesocialnetwork.com - Gempa tidak memilih. Ia menghantam rata. Tapi kemiskinan dan keterlambatan bantuan memilih. Ia selalu mampir paling lama di tempat yang paling jauh dari kamera.
Tujuh koma tujuh SR. Angka itu hari ini menghantui Kabupaten Manggarai Timur. Di Kecamatan Sambi Rampas, tepatnya Kelurahan Pota, Kampung Pota, gempa itu bukan sekadar berita di layar TV. Ia adalah atap yang runtuh di atas kepala, tembok yang menimpa meja makan, dan tanah kebun yang retak membelah harapan satu tahun ke depan.
Rumah luluh. Sekolah miring. Jalan retak. Jembatan putus. Kebun pertanian yang selama ini jadi ATM kami kini jadi kubangan batu dan lumpur.
Ada yang meninggal. Ada yang hilang. Ada yang masih tidur di bawah langit karena takut gempa susulan. Paling menyayat hati sekarang sudah beberapa hari terakhir, bantuan belum juga sampai.
Bagaimana rasanya hidup ketika logistik tidak datang, sementara perut tetap lapar? Bagaimana rasanya jadi orang tua ketika anak bertanya "Ma, makan malam apa?" dan jawabannya hanya diam?
Bagaimana rasanya jadi warga negara ketika satu-satunya kalimat yang bisa diucapkan adalah: “kami tidak tahu harus meminta selain kepada Tuhan, mungkin Tuhan membantu kami lewat tangan mungil kalian.”
Di Pota, listrik padam, air bersih langka, obat-obatan habis. Terpal untuk berteduh pun harus berebut. Malam dingin menusuk karena atap sudah tidak ada. Siang panas membakar karena tidak ada tempat berteduh. Petani kehilangan sawah. Nelayan kehilangan akses. Guru kehilangan sekolah. Anak-anak kehilangan masa depan sementara.
Kita bisa berdebat soal data, soal prosedur, soal koordinasi. Tapi di Kampung Pota, yang mereka butuhkan hari ini bukan debat. Yang mereka butuhkan adalah nasi, air, tenda, obat, dan kepastian bahwa mereka tidak dilupakan.
Pemerintah pusat sudah turun "full team" atas perintah Presiden. POSKO sudah dibentuk, logistik sudah dikonsolidasikan di Halim, menteri-menteri sudah membatalkan upacara di Istana untuk hadir di daerah.
Itu langkah yang patut kita hargai. Tapi jarak antara Halim ke Pota tidak bisa diukur dengan peta. Ia diukur dengan waktu. Dan waktu, untuk warga Pota, terasa seperti siksaan.
Bencana tidak bisa kita hindari sepenuhnya. Tapi membiarkan saudara kita bertahan tanpa uluran tangan? Itu pilihan. Dan pilihan itu sedang diuji pada kita semua hari ini.
"Belas kasih sesama saudara saat ini sangat kami butuhkan sebagai cara agar kami bisa survival."
Kalimat itu sederhana. Tapi di dalamnya ada seluruh isi dunia: rasa takut, rasa malu karena harus meminta, dan sisa harapan terakhir bahwa masih ada orang baik di luar sana.
Saudara di Pota tidak meminta banyak. Mereka tidak minta rumah baru hari ini. Mereka tidak minta uang miliaran. Mereka hanya minta kesempatan untuk hidup sampai besok. Minta agar anak-anaknya tidak tidur dengan perut kosong. Minta agar luka tidak bertambah karena tidak ada obat.
Jika kita masih punya hati, maka inilah saatnya kita buktikan. Jika kita masih percaya Indonesia itu satu, maka buktikan dengan tindakan, bukan hanya dengan tagar. Gempa boleh meruntuhkan rumah. Jangan biarkan ia juga meruntuhkan rasa persaudaraan kita.
ULURKAN TANGAN UNTUK POTA
Saudaraku, kampung Pota di Sambi Rampas, Manggarai Timur saat ini benar-benar membutuhkan kita. Bantuan logistik belum merata. Banyak keluarga masih bertahan di tenda darurat tanpa makan layak dan air bersih. Mari jadi "tangan mungil Tuhan" untuk mereka.
