Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gerakan Reformasi Alauddin Makassar Desak Kebijakan Tegas Pemerintah Berantas Mafia Penimbun BBM di Sulsel

Sumber: Akun Instagram KSDM
Timelinesocialnetwork.com Makassar, Sulawesi – Selatan Kamis 10/09/2026 Gelombang aksi demonstrasi besok di Makassar (GERAM) terkait isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kini memicu sorotan di panggung politik nasional. Keberadaan flayer dan tuntutan aksi yang secara spesifik menyerang Partai Golkar serta Ketua Umumnya, Bahlil Lahadalia, dinilai bukan lagi sekadar aspirasi rakyat biasa. 

Banyak pihak membaca fenomena ini sebagai agenda setting terstruktur yang sengaja didesain untuk meruntuhkan kredibilitas elite politik di Jakarta.

Menanggapi dinamika yang tertuang jelas dalam flayer propaganda tersebut, tokoh pergerakan pemuda sekaligus aktivis Makassar, Bung Aim, memberikan analisis mendalam. 

Menurutnya, gelombang protes mahasiswa terkait pemenuhan hak-hak dasar masyarakat seputar pasokan energi adalah hak konstitusional yang wajar. Namun, dalam gerakan GERAM ini, ia mengendus adanya indikasi penumpang gelap yang mencoba membelokkan kemurnian tuntutan mahasiswa demi syahwat persaingan politik praktis.

"Persoalan stabilitas stok BBM di daerah pada dasarnya merupakan masalah teknis operasional serta pengawasan rantai distribusi di lapangan," ungkap Bung Aim. 

"Namun, ketika isu lokal ini secara agresif langsung ditarik ke ranah politik makro dengan menyerang simbol partai tertentu dan membidik figur nasional seperti Pak Bahlil, maka nilai ini upaya mendowngrade reputasi politik secara personal. Ini bukan lagi murni membela hak rakyat, melainkan skenario pembunuhan karakter menjelang momentum politik strategis."

Bung Aim menambahkan bahwa publik dan mahasiswa Sulawesi Selatan di Makassar sudah sangat cerdas dalam membaca arah angin pergerakan. Aliansi mahasiswa dikenal memiliki integritas yang tinggi dalam menyuarakan kebenaran. Oleh sebab itu, sangat disayangkan jika idealisme murni dari aliansi GERAM justru ditunggangi oleh kelompok kepentingan tertentu untuk melancarkan kampanye hitam (black campaign). 

Menghubungkan problem kelangkaan BBM regional dengan posisi kepemimpinan partai politik dinilai sebagai lompatan logika yang terlalu dipaksakan.

Di tingkat pusat, serangan ini bernada provokatif lewat selebaran digital ini dinilai rawan memicu polarisasi baru yang tidak sehat. Sebagai salah satu partai politik besar dengan jejaring akar rumput yang sangat kokoh, Golkar kerap menjadi sasaran empuk dalam strategi pelemahan opini publik. 

Upaya delegitimasi yang diarahkan langsung kepada Bahlil Lahadalia juga dipandang berkaitan erat dengan posisi strategisnya dalam peta politik nasional terkini. Skenario melemahkan reputasi ini sengaja diembuskan melalui isu sensitif yang menyentuh hajat hidup orang banyak seperti pasokan bahan bakar agar mendapatkan simpati publik secara instan.

Menyikapi tekanan opini tersebut, Bung Aim mengingatkan para aktivis mahasiswa dan seluruh elemen yang tergabung dalam GERAM agar kembali ke khittah perjuangan yang substansial. Gerakan moral mahasiswa tidak boleh terjebak dalam pragmatisme politik elektoral kelompok tertentu yang ingin memancing di air keruh. 

"Jangan biarkan keringat mahasiswa di jalanan hanya menjadi komoditas politik kelompok elitis yang ingin merusak nama baik seseorang. Fokuslah mendesak Pertamina dan dinas terkait untuk memberantas para mafia penimbun BBM ilegal di Sulawesi Selatan," tegas Bung Aim.

Eskalasi protes di Makassar ini kini menjadi perhatian serius para pengamat politik nasional. Isu domestik regional yang awalnya murni problem distribusi kini bergeser menjadi ujian soliditas bagi kepemimpinan nasional Partai Golkar di bawah bayang-bayang turbulensi politik daerah yang terus memanas.