Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KOHATI Inklusif: Ikhtiar Membangun Kepemimpinan Perempuan Yang Progresif dan Berintegritas

Sumber: isntagram Kohati inklusif 
Timelinesocialnetwork.com Wacana kepemimpinan di tubuh Korps HMI-Wati (KOHATI) PB HMI periode 2026-2028 menemukan momentum reflektifnya melalui pencalonan Andi Wahyuni Muzakkir. Dengan mengusung tagline "KOHATI INKLUSIF: Membuka Ruang, Menguatkan Kompetensi, Memperluas Pengaruh", calon kandidat ini tidak sekadar menawarkan pergantian kepemimpinan, melainkan sebuah rekonstruksi paradigma peran perempuan dalam organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia.

1. Dari Ruang Simbolik Menuju Penguatan Kapasitas

Selama ini, diskursus tentang perempuan dalam organisasi kemahasiswaan seringkali terjebak pada logika afirmatif yang bersifat simbolik: perempuan cukup diberi ruang. Padahal, dalam perspektif empowerment theory yang dikemukakan oleh Naila Kabeer, pemberdayaan tidak berhenti pada akses, tetapi harus sampai pada kemampuan untuk membuat pilihan strategis dan menentukan arah.

Inilah tawaran fundamental yang dibawa Andi Wahyuni Muzakkir. Keyakinannya bahwa "perempuan tidak cukup hanya diberi ruang, tetapi harus diperkuat kapasitasnya untuk mengambil peran dan menentukan arah" adalah sebuah kritik akademis terhadap model inklusi yang semu. Inklusi sejati, sebagaimana dijelaskan dalam teori kepemimpinan inklusif Shore & Chung (2022), mensyaratkan dua hal sekaligus: belongingness (rasa memiliki ruang) dan uniqueness(pengakuan atas kompetensi yang khas).

2. Tiga Pilar KOHATI INKLUSIF sebagai Jawaban Krisis Kaderisasi

Gagasan KOHATI INKLUSIF dapat dibedah menjadi tiga pilar strategis yang saling berkaitan:

Pertama, Membuka Ruang. Ini adalah dimensi progresif. KOHATI di bawah kepemimpinan yang progresif harus menjadi ruang yang tidak eksklusif dan tidak elitis. Di tengah tantangan disrupsi digital dan fragmentasi gerakan perempuan, KOHATI harus menjadi rumah besar yang mampu merangkul keragaman latar belakang kader HMI-Wati, dari Sabang sampai Merauke.

Kedua, Menguatkan Kompetensi. Ini adalah dimensi transformatif. Jika ruang telah dibuka, maka pengisian ruang tersebut harus dengan kompetensi. Penguatan kaderisasi tidak boleh lagi berorientasi pada kuantitas training, tetapi pada kualitas capacity building: kemampuan intelektual, kepekaan sosial, keterampilan advokasi, dan literasi kepemimpinan perempuan. Inilah yang membedakan KOHATI sebagai organ perkaderan, bukan sekadar sayap organisasi.

Ketiga, Memperluas Pengaruh. Ini adalah dimensi kontributif. Tujuan akhir dari penguatan internal adalah perluasan pengaruh eksternal bagi umat dan bangsa. Dalam konteks HMI, misi keumatan dan kebangsaan adalah dua sisi mata uang. KOHATI yang inklusif harus mampu melahirkan gagasan dan gerakan yang berdampak, tidak hanya bagi internal HMI, tetapi bagi agenda-agenda kemanusiaan, keadilan gender, dan pembangunan nasional.

3. Kepemimpinan yang Berintegritas: Modal Etis di Tengah Krisis Keteladanan.

Tagline "dengan niat pengabdian dan semangat perjuangan, menyongsong kepemimpinan KOHATI yang progresif, inklusif, dan berintegritas" menegaskan pentingnya modal etis. Di era dimana krisis keteladanan kepemimpinan melanda banyak organisasi, integritas menjadi mata uang tertinggi. Integritas berarti konsistensi antara nilai-nilai keislaman, ke-HMI-an, dan praksis gerakan.

Figur Andi Wahyuni Muzakkir dengan latar belakang komitmen pengabdiannya, menawarkan model kepemimpinan yang tidak transaksional, melainkan transformatif. Kepemimpinan yang tidak berorientasi pada kekuasaan, tetapi pada pengabdian.

Pencalonan Andi Wahyuni Muzakkir sebagai Calon Kandidat Ketua Umum KOHATI PB HMI Periode 2026-2028 bukan sekadar kontestasi elektoral. Ia adalah tawaran ideologis untuk menggeser KOHATI dari sekadar pelengkap struktur menjadi penentu arah.

KOHATI INKLUSIF adalah jawaban atas pertanyaan lama, bagaimana perempuan HMI tidak hanya hadir, tetapi berdaya, tidak hanya diberi panggung, tetapi mampu menyutradarai perubahan itu sendiri.