Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Milad KAHMI ke-60: Merekonstruksi Mata Rantai Perkaderan dari Simbolisme Menuju Solidaritas Substantif

Rasyid Siddiq, Wasekum PTKP Badko HMI Sumatera Utara 2024/2026
Timelinesocialnetwork.com Milad Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) ke-60 tahun bukanlah sekadar perayaan kronologis. Dalam perspektif sosiologi organisasi, milad adalah momentum reflektif untuk mengevaluasi sejauh mana fungsi laten dan fungsi manifes sebuah organisasi alumni bekerja. 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui para senior, apalagi mempertentangkan HMI dengan KAHMI, yang secara historis merupakan satu kesatuan entitas perkaderan. Tulisan ini lahir dari sebuah kegelisahan epistemik seorang kader yang menyaksikan adanya jarak antara besarnya potensi jejaring KAHMI dengan realitas kebutuhan riil di tingkat komisariat dan cabang.

Secara faktual, roda organisasi HMI hari ini berjalan dalam kondisi yang tidak ideal. Kegiatan perkaderan, Latihan Kader, diskusi, sekolah-sekolah pemikiran, advokasi, hingga kajian-kajian keislaman dan keindonesiaan seringkali harus ditopang oleh swadaya kader. Mereka mengorbankan waktu kuliah, tenaga, dan biaya pribadi agar organisasi tetap hidup. 

Dalam teori modal sosial Robert Putnam, kondisi ini menunjukkan adanya bonding social capital yang kuat di internal HMI, tetapi bridging social capital yang lemah antara HMI dengan struktur alumninya. HMI kuat di dalam, tetapi rapuh dalam akses terhadap sumber daya eksternal yang seharusnya dimiliki oleh KAHMI.

Kesenjangan tersebut menjadi lebih krusial ketika masuk pada ranah personal yang bersifat eksistensial, yakni keberlangsungan pendidikan. Tidak sedikit kader HMI yang saat ini berada pada persimpangan antara idealisme perkaderan dan realitas ekonomi. Kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), biaya penelitian tugas akhir, hingga ancaman putus studi bukanlah cerita fiktif. 

Ini adalah fenomena struktural yang dialami mahasiswa kelas menengah bawah di seluruh Indonesia. Ketika negara belum sepenuhnya hadir dengan jaminan pendidikan tinggi yang terjangkau, organisasi alumni seharusnya menjadi katup pengaman sosial.

Di sinilah urgensi kehadiran KAHMI harus diredefinisi. Jika menggunakan kerangka filantropi, ada kekeliruan paradigma bahwa bantuan harus selalu berbentuk material langsung. Padahal dalam teori jejaring, kekuatan KAHMI yang paling besar bukanlah uang, melainkan relasi. Hari ini alumni HMI tersebar di seluruh anasir strategis bangsa: eksekutif, legislatif, yudikatif, dunia akademik, perbankan, BUMN, korporasi swasta, lembaga filantropi, organisasi masyarakat sipil, hingga dunia usaha. Jejaring sebesar ini dalam konsep Mark Granovetter disebut sebagai the strength of weak ties, kekuatan ikatan lemah yang justru mampu membuka akses, informasi, dan peluang yang tidak dimiliki oleh ikatan kuat internal HMI.

Maka bentuk pengabdian yang paling rasional bukanlah sekadar donasi insidental, melainkan peran sebagai broker dan bridge. Ketika seorang kader datang dan berkata, "Bang, tolong bantu kegiatan perkaderan," atau "Bang, adinda kesulitan menyelesaikan kuliah karena biaya," jawaban yang diharapkan bukan hanya simpati normatif. 

Melainkan tindakan fasilitatif: menghubungkan dengan lembaga yang memiliki program beasiswa, memperkenalkan kepada perusahaan yang memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR) pendidikan, membuka akses kepada Lembaga Amil Zakat Nasional, menghubungkan dengan alumni lain yang memiliki kapasitas membantu, atau menjembatani dengan birokrasi kampus dan pemerintah daerah. Satu nomor telepon yang diberikan oleh seorang senior bisa jadi jauh lebih berharga daripada seribu kata tentang nilai-nilai ke-HMI-an.

Argumentasi ini berlandaskan pada prinsip mata rantai perkaderan yang berkelanjutan. Dalam filsafat perkaderan HMI, proses kaderisasi tidak berhenti pada saat seorang kader selesai mengikuti Basic Training atau Intermediate Training. Ia adalah sebuah sirkulasi. HMI dahulu memberikan ruang kepada para senior untuk belajar, berdebat, dan ditempa menjadi pemimpin. 

Hari ini ketika para senior telah memiliki posisi dan otoritas, sudah semestinya sebagian dari otoritas itu dikembalikan dalam bentuk pembukaan pintu. Menyelamatkan seorang kader agar tetap bisa menyelesaikan kuliahnya bukanlah persoalan kecil. Kita sedang menyelamatkan masa depan seorang manusia, memastikan ia tidak berhenti menjadi sarjana hanya karena persoalan ekonomi, dan menjaga agar mata rantai perkaderan tidak terputus di tengah jalan.

Oleh karena itu, kritik ini juga merupakan otokritik terhadap model hubungan HMI-KAHMI yang selama ini cenderung bersifat seremonial dan simbolik. KAHMI seringkali terlihat megah dalam agenda besar: pelantikan, seminar nasional, halal bihalal, dan Milad. Tetapi kurang terlihat ketika kader berada di titik nadir perjuangan. Dalam teori organisasi, ini disebut sebagai ceremonial organization, organisasi yang kuat dalam ritual tetapi lemah dalam fungsi advokasi substantif. HMI tidak hanya membutuhkan alumni ketika berada di atas panggung untuk memberikan sambutan, HMI juga membutuhkan alumni ketika kadernya sedang berada di ruang-ruang sunyi yang penuh kesulitan.

Khusus untuk KAHMI Sumatera Utara, momentum Milad ke-60 ini harus menjadi momentum bercermin. Ada empat pertanyaan reflektif yang perlu dijawab secara jujur. Pertama, sejauh mana KAHMI hadir dalam menjawab persoalan nyata kader, bukan hanya persoalan wacana? Kedua, sejauh mana jejaring alumni yang begitu besar dimanfaatkan untuk membuka kesempatan ekonomi dan akademik bagi kader? Ketiga, sejauh mana KAHMI memiliki data dan mekanisme untuk membantu memastikan kader-kader HMI dapat menyelesaikan pendidikan mereka tepat waktu? Dan keempat, sejauh mana KAHMI benar-benar menjadi rumah, bukan hanya menjadi menara gading bagi para kader yang kelak juga akan menjadi bagian dari KAHMI itu sendiri?

Akhirnya, tulisan ini menegaskan bahwa HMI dan KAHMI tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. HMI memiliki energi, idealisme, dan semangat perjuangan. KAHMI memiliki pengalaman, kapasitas, dan jejaring. Jika keduanya disinergikan, maka tujuan HMI untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah dan cita-cita KAHMI untuk pengabdian kepada umat dan bangsa akan tercapai. 

Mari kita hentikan hubungan yang hanya sebatas simbol dan seremoni. Jika mampu membantu secara materi, bantulah secara materi. Jika belum mampu, bantulah dengan relasi. Jika belum bisa membuka bantuan, bukakanlah pintu. Jika belum bisa memberikan solusi, arahkanlah kader kepada orang yang mungkin dapat memberikan solusi. Sebab bagi seorang kader yang terancam putus kuliah, satu pintu yang dibukakan senior adalah penyelamat masa depan.

Selamat Milad KAHMI ke-60. Semoga tetap menjadi rumah besar yang tidak pernah lelah mengabdi.