Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mafia State dan Guru Rp 500 Ribu: Harga Mahal Kapitalisme Buta di Indonesia

Artikel ditulis berdasarkan dari podcast Gita Wirjawan dan Suzie Sudirman
Timelinesocialnetwork.com dari national interest itu sederhana, melindungi rakyat Indonesia. Tapi yang terjadi justru kita lupa menjaga satu sama lain. Tidak ada negara asing yang peduli dengan Indonesia, mereka semua maunya profit. Kapitalisme telah membuahkan orang-orang miskin yang marah pada imigran, padahal seharusnya mereka marah pada kapitalisme itu sendiri.

Masalah terbesar Indonesia adalah kapitalisme datang sebagai shock terapi ke masyarakat yang masih tidur, tanpa pengetahuan. Tidak ada diskursus di universitas tentang apa itu kapitalisme, apa ekspektasinya, bagaimana mengurangi dampak negatifnya. 

Akhirnya Undang-Undang Cipta Kerja jadi campur aduk, atasnya liberal, bawahnya korporatis. Di Eropa kapitalisme dikontrol dengan peran buruh yang kuat, di Amerika ada perbedaan antara right to work state dan negara bagian yang boleh punya serikat buruh. Di sini tidak ada penjelasan itu.

Satu-satunya harapan kita adalah investasi di guru, karena 90% kepala rumah tangga dari Sabang sampai Merauke tidak berpendidikan S1, dan guru adalah interseksi yang berinteraksi dengan murid 6-8 jam sehari. Tapi bagaimana mungkin kita merekrut guru berkualitas kalau 3,5 juta guru dan dosen digaji UMR, bahkan honorer di Kendari cuma 500 ribu sebulan? Kalau lulusan brilian UI ditawari jadi guru di kampung halamannya di Wonogiri dengan gaji 2,8 juta, sementara tawaran di Danantara 40 juta sebulan, walaupun dia mau jadi guru, dengan 2,8 juta dia tidak mungkin bisa menaruh makanan di atas meja.

Akibat dari gaji rendah itu sangat berbahaya, yaitu fanatisme masuk ke dalam kelas. Kalau guru digaji rendah, yang akan masuk adalah orang-orang fanatik yang akan mengajarkan nilai-nilai agama yang fanatik, bukan nilai-nilai saintifik. 

Kita melihat sekarang mayoritas yang ke arah fanatisme itu ada di FT dan di MIPA. Seolah-olah mereka bilang teknologi-teknologi Kristen kami kalah, padahal sebenarnya kalah karena bodoh. Eksklusivitas kampus sekarang bukan datang dari keinginan menjaga kualitas, tapi datang dari agama.

Kondisi ini diperparah karena kita hidup dalam apa yang bisa disebut mafia state. Officials kita adalah preman, setiap meja diminta. Bagaimana mau mengundang investasi kalau investasi takut sama preman dan jawara? Data menunjukkan FDI ke Asia Tenggara 200 sampai 230 miliar dolar per tahun, Singapura dengan 6 juta penduduk bisa menarik 100 sampai 140 miliar dolar secara disproportionate, sementara Indonesia hanya 30 sampai 50 miliar dolar. Kenapa? Karena penegakan hukum dan kapasitas translasi. Kalau tidak ada hukum, orang menjadi miskin, lalu menjadi begal, menjadi jawara.

Kami percaya pada propaganda. American society is a socially engineered society. Mereka merekayasa masyarakatnya untuk menjadi berkualitas. Di sini social engineering-nya adalah untuk menguatkan kekuasaan, bukan untuk menciptakan masyarakat yang baik. Kita terjebak dalam tiktokisme, masyarakat mabuk dalam sensasionalisme 30 detik, bukan intelektualisasi. Demokratisasi informasi terjadi, tapi tidak nyambung dengan demokratisasi ide, yang terjadi justru polarisasi ide dan modal. Padahal demokratisasi hanya bisa berhasil kalau terjadi demokratisasi kognisi.

Dalam konteks global, baik globalisasi gaya Barat maupun Tiongkok sama-sama akan menabrak tembok. Barat mengkampanyekan nilai liberal dengan universalisme tinggi, my God is your God, tanpa kepekaan terhadap primasi budaya dan kedaulatan. Hasilnya bukan demokratisasi public goods, tapi pure capitalism di mana modal semakin terelitisasi. 

Tiongkok mencoba dengan pluralisme, my God is not your God, pragmatisme jualan Xiaomi dan BYD. Tapi mereka juga akan gagal kalau tidak ada kesadaran untuk melimpahkan teknologi agar mitranya bisa merangkak di rantai nilai, plus masalah private power seperti mafia, scammers, dan narkotik trading yang tidak terkontrol.

Jawabannya kembali ke prinsip paling awal: Indonesia menjaga Indonesia. Kita butuh pemimpin yang benar-benar berani menyatakan saya akan membagikan kekayaan Indonesia bagi orang Indonesia secara adil, dan dikelola dengan baik. Bukan anti asing, tapi kalau mereka mau invest, pajak yang besar sehingga terasa akibatnya kepada orang. Dan yang paling struktural, solusinya adalah guru. 

Guru-guru di seluruh Indonesia harus digilir masuk ke PTN-PTN seperti UI, Unhas, Uncen, Unsrat untuk kursus seminggu, diberi wawasan soal globalisasi, capitalism, dan bagaimana menjaga Indonesia tetap stabil. Kalau tidak, kita akan terus memborohkan masa depan untuk kepentingan kekinian.