Muslim dan Islam yang Disalahartikan
![]() |
| Zulfikar - Kader HMI Cabang Kota Bogor |
Tidak berselang lama, kejadian serupa mengejutkan Indonesia. Bom Bali I pada 12 Oktober 2002 dan Bom Bali II pada 1 Oktober 2005 yang dilakukan jaringan Jamaah Islamiyah, menyebabkan setidaknya 225 korban jiwa dan ratusan korban luka-luka dari kedua kejadian tersebut. Lagi-lagi wajah Islam menjadi sorotan dan mendapat kecaman tajam dari dunia.
Rentetan peristiwa tersebut turut membentuk persepsi bahwa Islam identik dengan radikalisme, intoleransi, bahkan terorisme. Sejak saat itu pemberitaan Islamophobia semakin mencuat. Sebuah upaya membentuk prasangka, stereotipe, hingga diskriminasi terhadap Islam atau orang yang dipersepsikan sebagai Muslim.
Tidak berhenti dari situ, persepsi serupa berkembang dalam perdebatan mengenai poligami, pembatasan hak perempuan di sejumlah negara Muslim, hingga kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh pimpinan lembaga dan pemuka agama. Karenanya muncul sebuah pertanyaan besar, benarkah semua itu merupakan wajah Islam?
Islam Dipersepsikan
Barangkali masalah terbesar kita hari ini, adalah bagaimana Islam dipersepsikan. Pada titik ini muslim bukanlah kelompok manusia yang seragam. Mereka memiliki latar belakang, pemahaman, dan perilaku yang beragam. Tindakan seorang Muslim tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan Islam, sebagaimana tindakan seorang pemeluk agama lain tidak otomatis mewakili seluruh agamanya.
Kendatipun demikian, tindakan yang mengatasnamakan agama tetap harus dikritik ketika melahirkan kekerasan dan merampas hak orang lain. Peristiwa 9/11, ledakan Bom Bali, hingga persoalan pelecehan seksual oleh pimpinan lembaga keagamaan, semua itu memanglah salah, semua itu patut dikritik. Namun kritik terhadap perilaku manusia harus dibedakan dari kesimpulan bahwa Islam mengajarkan perilaku-perilaku tersebut.
Pada persoalan hak perempuan, Nawal El Saadawi dalam banyak karyanya, tegas mengkritik struktur patriarki yang menurutnya menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Poligami sering dipersoalkan karena dianggap berpotensi merendahkan perempuan ketika dijalankan tanpa keadilan.
Meski demikian, persoalan-persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari persepsi dan pengalaman sosial semata, namun juga pengaruh media dan kebijakan politik, turut membentuk persepsi masyarakat. Ketika kesalahan sebagian orang digeneralisasi kepada seluruh pemeluknya, kritik terhadap tindakan manusia dapat berubah menjadi prasangka terhadap agama. Karena itu, memahami Islam sedianya dimulai dengan membedakan ajaran, pemeluk, dan tindakan yang mengatasnamakannya.
Peradaban yang Terlupakan
Jika ingin mengenal Islam, sedianya kita memulainya dari awal. Bagaimana Islam lahir pada abad ke-7, di tengah masyarakat yang menghadapi penindasan sosial, fanatisme kesukuan, dan ketimpangan ekonomi. Islam kemudian membawa nilai yang menuntut manusia memperlakukan manusia lain secarabermartabat. Melalui Nabi Muhammad, beliau berhasil membangun masyarakat Mekkah-Madinah yang berkeadaban.
Piagam Madinah yang beliau cetuskan 14 abad yang lalu, merupakan warisan bagi dunia hari ini, bagaimana membentuk tatanan kehidupan bersama yang damai, adil, dan aman di tengah masyarakat yang majemuk.
Bahkan sepeninggal beliau, risalah Islam tidak stagnan apalagi mundur, namun kian berkembang mewarnai perjalanan umat manusia. Islam tidak hanya tumbuh sebagai agama, akan tetapi menjadi bagian dari peradaban yang melahirkan tradisi keilmuan. Dimana Islam berhasil memberi sumbangsih kemajuan di banyak sektor peradaban umat manusia modern lewat para pemeluknya. Abad ke-8 hingga ke-14 menjadi titik puncak perkembangan dan sumbangsihnya, dimana nama-nama seperti Al-Khawarizmi dengan aljabarnya, Jabir ibn Hayyan dengan kimianya, Ibn al-Haytham dengan ilmu optika, Al-Biruni dengan astronomi, Ibn Sina dengan ilmu kedokteran, Al-Ghazali dengan pemikiran etika dan teologi, Ibn Rusyd dengan filsafat, Ibn Khaldun dengan sosiologi, hingga Abbas ibn Firnas dengan konsep penerbangannya.
Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa Islam tidak sekadar agama yang diwariskan, melainkan peradaban yang turut membentuk perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia. Warisan ini mengingatkan kita bahwa mengenal Islam sedianya tidak berhenti pada prasangka, melainkan menelusuri keluasan sejarah dan sumbangsihnya. Sayangnya, warisan intelektual ini kerap terlupakan, sementara Islam justru sering direduksi pada tindakan segelintir pemeluknya.
Interpretasi Parsial
Terkadang kita melihat teroris yang meneriakkan takbir, lalu mengatakan Islam adalah agama teroris. Kita melihat praktik patriarki lalu mengatakan Islam merampas hak perempuan. Kita melihat pemimpin agama melakukan pelecehan lalu mengatakan agama mengajarkan pelecehan. Sayangnya tidak demikian. Kesalahan memang adalah niscaya, akan tetapi masalahnya kita sering membaca serta menafsirkan Islam secara setengah-setengah.
Inilah yang dimaksud Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity, bahwa membaca tradisi Islam dengan mempertimbangkan konteks sejarah dan pesan moralnya amatlah penting. Karenanya, jika hanya satu peristiwa, atau satu orang, bahkan satu negara tidak cukup dijadikan definisi seluruh Islam. Mestinya kita beranisecara adil, melihat sisi lain juga. Apabila tindakan buruk sebagian Muslim dijadikan ukuran tentang Islam, maka tindakan baik sebagian Muslim juga harus diperhitungkan dan dapat diterima sebagai representasi dari Islam.
Karenanya, pemaknaan secara parsial adalah bentuk Reduksionisme. Dimana menganggap segelintir tindakan penganut agama merupakan gambaran umum dari ajaran agama tersebut, namun disaat bersamaan menafikan perbuatan baik dari sebagian lain penganut agama tersebut sebagai ajaran luhur dari agamanya. Sehingga pemahaman seperti ini sangatlah berbahaya, sebab dapat menyulut perpecahan apabila terus-menerus di konsumsi masyarakat.
Islam dalam Nilai
Lantas apa yang tersisa manakala simbol, pakaian, gelar, dan perilaku manusia kita lepaskan? Ialah nilai yang ada padanya. Menyadur pandangan Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Doktrin dan Peradaban, melihat Islam tidak semata pada identitas yang melekat pada pemeluknya saja. Keberislaman sejatinya tidak berhenti pada apa yang nampak, tetapi tercermin dalam nilai-nilai luhur yang dijalankan. Populasi Muslim dunia hari ini mencapai sekitar 2,02 miliar atau sekitar 25,6% populasi dunia. Artinya dalam setiap 10 orang di dunia, sekira 2-3 orang di antaranya adalah Muslim. Sebuah pemandangan kontras jika membandingkan Islam di awal kedatangannya yang terasingkan dan penuh penolakan.
Maka pertanyaannya apa yang menyebabkan Islam berkembang begitu pesat bahkan menjadi populasi terbesar kedua di dunia? Tentunya ada faktor azasi yang tumbuh dalam perjalanan sejarah dan faktor demografis yang kompleks. Ia hidup dalam nilai-nilai yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, mengenal Islam bukan sekadar mengenali siapa yang memeluknya, apa yang dikenakannya, atau bagaimana sebagian orang bertindak atas namanya. Pun menjadi seorang muslim, berarti berusaha menginternalisasikan nilai-nilai Islam pada dirinya. Sebab, agama semestinya tidak hanya menjadi identitas yang ditampilkan, jauh dari itu ia harus menjadi pedoman untuk memanusiakan manusia.
