Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Retina Senyum Manismu Nona

La Ode Muhamad Yuslan,
Penyimak kemungkinan-kemungkinan kecil di sekitar
Timelinesocialnetwork.com Media sekarang cuma kabar buruk. Semakin ke sini, aku semakin merasa hal-hal indah di negeri ini cuma tersisa pada senyum manismu, Nona.

Aku baru sadar ini bukan cuma perasaan sesaat waktu buka ponsel jam tujuh pagi tadi. Timeline penuh kasus korupsi pejabat, pejabat yang ditangkap, bencana alam yang tak berkesudahan, orang saling caci di kolom komentar, dan aku, seperti biasa, ikut kena arus itu sebelum sempat sarapan. Tidak ada yang salah dengan mataku. Yang salah adalah sistemnya.

Aku ingat baca Nexus-nya Yuval Noah Harari tahun lalu, dan satu hal yang nempel sampai sekarang: jaringan informasi, ya dari kitab suci sampai algoritma di ponsel kitaitu sebenarnya tidak pernah dirancang untuk mengejar kebenaran. Ia dirancang supaya jaringannya sendiri tetap hidup, tetap ditonton, tetap dibicarakan. Dan sialnya, rasa takut jauh lebih laku daripada rasa syukur. Jadi bukan negeri ini yang benar-benar seburuk itu. Yang buruk adalah cara kita dipaksa terus-menerus menonton bagian paling buruknya saja.

Yang lebih bikin resah, kita bahkan sudah lupa cara membedakan mana Indonesia yang sungguhan dan mana yang sudah dibungkus ulang oleh layar. Yasraf Amir Piliang pernah menulis soal ini di dalam “Dunia yang Dilipat”, bagaimana realitas terus-menerus dilipat oleh citra, sampai orang kehilangan pegangan pada yang asli. Aku pikir itu tepat sekali menggambarkan negeri ini sekarang. Sawah yang masih menghijau (mungkin saja), nelayan masih berangkat sebelum subuh, anak-anak masih tertawa di halaman sekolah, tapi semua itu kalah tayang dari satu video orang marah-marah tiga puluh detik. Bukan karena yang indah sudah punah. Tapi karena yang indah tidak cukup dramatis untuk dilipat jadi konten.

Lalu aku ingat Gitanjali. Tagore menulisnya di tengah tanah jajahan, penuh luka, tapi dia tetap memilih menulis nyanyian Syukur itu bukan karena menyangkal derita, tapi karena kalau derita jadi satu-satunya bahasa yang kita punya, kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Mungkin itu sebabnya aku tidak bisa berhenti memikirkan senyummu setiap kali menutup aplikasi berita. Bukan pelarian. Lebih ke perlawanan kecil. Cara menolak diam di tengah dunia yang maunya kita panik terus.

Ada juga yang aku pikirkan soal orang-orang yang memilih jalan sendiri di tengah arus besar, semangat yang sering muncul dalam tulisan-tulisan bernapas anarkis tentang pejalan yang menolak digiring. Katanya, kebebasan paling kecil yang masih tersisa buat manusia adalah kebebasan memilih apa yang mau ia perhatikan. Sistem boleh menyodorkan kepanikan dua puluh empat jam sehari, tapi tidak ada yang bisa memaksaku berhenti memperhatikan hal-hal kecil yang masih utuh, langkah kaki yang tidak terburu-buru, obrolan warung kopi yang masih hangat, wajahmu yang tetap sama meski dunia makin berisik.

Aku juga jadi teringat satu kisah yang pernah aku baca, tentang sepasang kekasih yang memilih tetap bergandengan tangan waktu dunia di sekitar mereka runtuh. Aku belum bisa memastikan darimana persis kisah itu berasal, jadi biar aman aku ceritakan intinya saja: bahwa cinta mereka bukan pelarian dari kenyataan yang keras, tapi perlawanan itu sendiri. Di tengah sistem yang terus mencoba memisahkan orang, membuat mereka saling curiga, ada dua manusia yang menolak berhenti percaya satu sama lain. Melawan, ternyata, tidak selalu berarti mengangkat suara atau mengangkat senjata. Kadang sesederhana tidak melepaskan tangan.

Sastra klasik negeri ini punya kebiasaan yang mirip, yah mencintai tanah air seperti mencintai seorang perempuan. Dari roman-roman lama yang menitipkan nasib bangsa pada tokoh perempuannya, sampai puisi-puisi yang menyamakan tanah air dengan kekasih yang harus dijaga dan dirindukan. Ibu Pertiwi bukan metafora kosong. Ia lahir dari kebiasaan lama orang Nusantara memandang bangsanya seperti memandang seseorang yang dicintainya dengan cara yang personal, bukan abstrak.

Jadi mungkin bukan kebetulan kalau, waktu media cuma menyuguhkan puing demi puing kabar buruk, hatiku justru mencari pengganti di tempat paling sederhana: satu wajah, satu senyum, satu orang yang masih membuat negeri ini terasa layak diperjuangkan. Bukan karena aku menutup mata dari kenyataan. Tapi karena, seperti kata Tagore, nyanyian syukur tidak pernah menyangkal luka, ia cuma menolak membiarkan luka jadi satu-satunya hal yang didengar.

Media boleh terus melipat dunia jadi rentetan kabar buruk. Algoritma boleh terus memilih ngeri di atas damai. Tapi selama masih ada satu senyum tulus di tengah negeri yang sedang ribut ini, aku percaya yang indah belum benar-benar hilang. Ia cuma bersembunyi di tempat yang tidak pernah dilirik kamera dan kebetulan, Nona, wajahmu adalah salah satu tempat persembunyian itu.